Perbaikan Makalah Rabiatul Adawiyah

HORJA DAN MANGUPA




D

I

S

U

S

U

N

OLEH: KELOMPOK VII

                           RABIATUL ADAWIYAH RANGKUTI      1720400042


DOSEN PENGAMPU:

Dr. ZAINAL EFENDI HSB. M.A.


PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

IAIN PADANGSIDIMPUAN

2021/2022




BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Adat istiadat, merupakan warisan leluhur yang masih ada di tenggah-tengah masyarakat yang merupakan tatanan yang mengatur kehidupan di masyarakat secara turun-temurun, makanya masyarakat yang beradat lebih tertib dalam menjalankan berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat daripada yang tidak beradat. Banyak bentuk adat-istiadat yang masih dipakai masyarakat di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Misalnya mangupa yang sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu dengan beberapa persyaratan adat yang harus dipenuhi agar upacara adat tersebut dapat terselenggara. Ada banyak macam tradisi mangupa, biasanya dilakukan pada waktu pelaksanaan hajatan secara umum, adakalanya mangupa margondang yang dilakukan pada selamatan disaat seseorang anak laki- laki dari yang punya hajat mendapatkan suatu pekerjaan. Dan ada kalanya mangupa tondi yang biasanya dilaksanakan apabila ada seseorang kecelakaan maka dilaksanakan mangupa tondi guna menjemput kembali semangat orang tersebut yang pudar pasca kecelakaan, sebab pada umumnya orang yang kecelakaan itu sering jera dan kurang mempunyai semangat hidup.

Ada yang beranggapan, bahwa upacara mangupa ini merupakan perbuatan jahiliyah sehingga sering sekali disebut sebagian orang bid’ah (tidak ada di zaman nabi) bahkan sebagian orang menegaskan bahwa tradisi ini berasal dari agama Hindu sebab orang-orang Hindulah yang pertama sekali melaksanakan tradisi ini yaitu mengembalikan ruh pulang kebatang-batang kayu.


  1. Rumusan Masalah

  1. Apakah Pengertian Upacara Horja dan Mangupa?

  2. Bagaimana Pelaksanaan Horja dan Mangupa? 

  3. Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Horja dan Mangupa?


  1. Tujuan Masalah

  1. Untuk Mengetahui Pengertian Horja dan Mangupa.

  2. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Horja dan Mangupa.

  3. Untuk Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Horja dan Mangupa.





BAB II

PEMBAHASAN


  1. Pengertian Upacara Horja dan Mangupa

Upacara mangupa adalah salah satu serangkaian upacara adat di masyarakat Tabagsel yang bertujuan mengembalikan tondi (semangat) ke badan, upacara adat ini ini berasal dari Tabagsel Sumatera Utara yang memiliki tata laksana spesifik dan fungsi nasehat, termasuk mengupa tondi kepada mempelai laki-laki dan perempuan untuk pasangan pernikahan yang akan mengarungi bahtera kehidupan. Menurut pakar adat, bahwa tujuan mangupa ini yang merupakan tujuan utamanya adalah untuk menguatkan , meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit, lemah dan terkejut atau baru lepas dari bahaya. Pada zaman dahulu, orang-orang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oeleh tondi (roh)nya kerena itu perlu diupa-upa agar rohnya kembali yang disebut mulak tondi tu ruma (kembali ruh ke badan). Kala itu nenek moyang, selalu memberikan boras (beras) si pir ni tondi ke atas kepala orang-orang yang di upah. Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi (roh) si sakit harus di kuatkan dan didinginkan.  

Dalam tradisi dan adat istiadat Tabagsel, ada 3 kondisi di masa upacara mangupa dapat dilaksanakan, yaitu hasosorang ni daganak (kelahiran anak), haroan boru atau dikenal juga sebagai patobang anak atau perkawinan anak laki-laki, dan marmasuk bagas ni imbaru atau memasuki rumah baru. Namun pada perkembangannya saat ini, perkembangan tradisi mangupa telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tabagsel sehingga terdapat banyak jenis mangupa misalnya mangupa memasuki rumah baru yabg disebut marbongkat bagas. Wilayah Tabagsel ini, termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kabupaten Padang Lawas.

Secara bahasa, belakangan ini mangupa di maknai sebagai pemberian sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoakan orang yang di upa-upa (orang yang diupa) agar memperoleh kebaikan, maka oleh sebagian orang menganggap bahwa mangupa semacam tradisi mendoakan untuk hal-hal yang baik, bahkan dikalangan masyarakat Tabagsel yang merupakan wilayah muslim sudah memasukkan nilai-nilai keislaman kedalam budaya mangupa ini sehingga secara tidak langsung mempengaruhib tradisi budaya mangupa ini.




  1. Pelaksanaan Horja dan Mangupa

 Perangakat pangupa diletakkan oleh pembawa acara di hadapan yang diupa, dan apabila upacara itu mengupa pengantin maka dihadapan kedua pengantin, di sebelah kiri dan kanan perangkat pangupa diletakkan masing-masing satu piring pangupa yang lain yang isinya adalah ikan dan daging ayam. Satu piring diletakkan dihadapan kelompok kahanggi dan piring yang lain di hadapan anak boru. Orang kaya membuka acara dengan sambutan yang biasanya seperti ini :

 “Jagit bo tulang burangir on,jagit bo nantulang burangir sirara unduk sibontar adopadop. Sataon so ra busuk, sabulan so ra malos, “Sumurdu burangir nami di hamu, di hananaek ni mata ni ari on, anso manaek matua, hamomora, hahorasan dohot hagabean di hamu na diadopkon ni pangupa on. Nadung lolot do on tarniat di andora suhut sihabolonan. Jadi na palaluhon ma sadarion niat ni roha nadung lolot tarsimpan di bagasan sitamunang ni morangkon. Hara godang ni roha i, nipasu baga-baga on. Jadi onpe patotor hamu ma sanga songon dia natumbuk mangihutkon partamana di bagasan adat i. Laho paboahan sinta-sinta dohot haul ni roha adop Tuhanta Na Uli Basa i. Anso denggan mardalan karejonta on, jana anso saut dohot tulus na di parsinta ni rohanta i. Jadi sannari kehe ma tu suhut sihabolanan”

 Artinya : “Terimalah tulang (mamak pengantin laki-laki) sirih ini, terimalah nantulang (isteri mamak pengantin laki-laki) sirih ini, sirih yang merah yang bagian belakang dan putih bagian depan. Setahun tidak akan busuk, sebulan tidak akan layu. Kami persembahkan sirih kami kepada kamu, ketika matahari mulai naik, agar naik pula tuah, derajat, kesehatan dan kejayaan kepada kamu berdua yang sedang disajikan pangupa ini. Sudah lama terniat bagi suhut sihabolonan (orang tua laki-laki dan kahangginya). Jadi dilaksanakanlah hari ini niat yang sudah lama tersimpan di dalam hati mora saya ini. Karena kami sangat berbahagia, maka dilaksanakanlah upacara yang mengandung harapan ini. Jadi dalam hal ini sampaikanlah apa yang tepat menurut adat. Kemudian sampaikanlah angan-angan kamu selama ini dan niat dalam hati kepada Tuhan kita, yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang itu agar berjalan lancar acara kita ini dan terlaksana apa yang kita inginkan. Sekarang giliran suhut sihabolanan menyampaikan hata mangupa”.

 Orang kaya kemudian melanjutkan mangupa dengan mempersilahkan berbagai pihak untuk menyampaikan hata mangupa, orang kaya harus mendahulukan pihak ibu-ibu menyampaikan hata pangupa. Kelompok ibu-ibu yang menyampaikan hata pangupa adalah suhut, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut dari pihak ibu-ibu. Suhut sihabolanan (tuan rumah yang punya hajat) yang pertama menyampaikan hata pangupa adalah ibu kandung pengantin laki-laki. Dia menguraikan maksud pertemuan adat ini dan maksud pangupa agar semua yang hadir secara resmi mengetahui. Dia menyampaikan hata pangupa penuh keharusan dan biasanya sambil menangis-menangis karena bahagia. Kemudian giliran hata pangupa kepada kahanggi, anak boru dan pisang rahut diberikan kepada kelompok barisan atau kelompok ibu-ibu. 

Hata pangupa dari suhut sihabolanan, kahanggi dan anak boru, dan hatobangon dari pihak bapak-bapak. Giliran pertama dari kelompok bapak-bapak adalah suhut sihabolonan, yaitu tuan rumah, dalam hal ini ayah dari pengantin laki-laki. Setelah itu, Orang kaya kemudian akan memperselisihkan kahanggi untuk memberi hata pangupa. Isi hata pangupa dari kahanggi umumnya sama dengan hata-hata upa-upa atau pangupa dari suhut. Setelah kahanggi memberikan hata pangupa, kemudian tiba giliran anak boru dan hatobangon dari pihak bapak-bapak untuk memberikan hata pangupa, yang isinya pada umumnya sama dengan isi hata pangupa dari anak boru pihak ibu-ibu yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya.

 Terakhir adalah penutup, yang mana yang diupa mencicipi hidangan pangupa dan memberikan hata pangupa, misalnya dalam acara mangupa kedua maka kedua pengantin mecicipi hidangan pangupa tersebut. Ketika mencicipi makanan atau hidangan pangupa tersebut, si pegantin harus memakan telur yang ada mulai dari putih telur dan bagian kuning telurnya, setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sedikit garam dan nasi. Kemudian akhir upacara mangupa ditutup dengan jawaban dari sepasang pengantin setelah kedua pengantin mencicipi hidangan pangupa, mereka dipersilakan menyampaikan kata-kata jawaban dari hata pangupa dari berbagai kalangan di atas. Isi jawaban sambutan mereka umumnya adalah ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah bersusah payah melaksanakan upacara adat yang sangat megah dan sakral itu.

Selain itu, dalam menyelenggarakan mangupa memiliki pantangan (larangan) mulai apabila unsur dalihan na tolu tidak terpenuhi atau tidak hadir dalam acara adat mangupa tersebut maka acara mangupa kurang sempurna dilaksanakan, kettidak hadiran harajaon pada upacara mangupa. Dan bahan atau hewan penting pangupa tidak terpenuhi maka pelaksanaan mangupa semacam ini kurang sempurna. 


  1. Pandangan Islam Terhadap Horja dan Mangupa

Sebenarnya, sangat banyak nilai yang terkandung di dalam upacara mangupa selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan), sebab orang dahulu mengenal istilh paulak tondi tu badan yang beranggapan bahwa pada saat seseorang ditimpah suaatu peristiwa, seperti kecelaan maka tondi atau rohnya tengah terpisah dari tubuhnya sehingga perlu ditarik kembali. Tondi adalah kekuatan batin yang apabila itu terganggu maka manusia itu akan mengalami penyakit mental mengakibatkan ia tertekan dan doncangan jiwa, sebagaimana dalam adat Tabagsel disebut horas tondi madingin pir tondi matogu (selamat, semoga semangatnya sejuk dank eras semangat). Inilah ungkapan yang sering diungkapkan kepada orang yang diupah, sebab, dalam pandangan masyarakat Tabagsel bahwa manusia terdiri dari tiga bagian yaitu badan, jiwa atau roh, dan tondi. Badan adalah jasad yang kasar dan nyata, jiwa atau roh adalah benda benda abstrak yang menggerakkan badan kasar dan tondi benda abstrak yang mengisi dan menunutun badan kasar dan jiwa dengan kuat sehingga seorang kelihatan berwibawab dan bermarwah. Tondi adalah kekuatan, tenaga, semangat jiwa dan memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang dah semangat dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi merupakan zat yang berdiri sendiri dalam keadaan tidak sadar tondi seseorang berada diluar badan dan jiwanya.

Maka pada hakekatnya, acara mangupa ini adalah memberi dorongan moral kepada sang korban agar tidak takut tetapi patut bersyukur kahadirat Allah SWT yang telah menyelamatkannya. Maka orang-orang terdahuku apabila selamat dari maut (musibah yang mengerikan) nenek moyang dahulu wajib melaksanakan upa-upa bagi yang terkena musibah tadi. Maka orang tuanya akan merebus telor ayam, nasi kunyit dan ayam panggang, selain itu acara mangupa dilaksanakan dengan cara memotong kerbau kambing.

Sekalipun, nasi kunyit dan panggang ayam tersebut harganya tidak seberapa tetapi ini adalah lambang semoga anak kembali sehat badan dan dijauhkan dari ketakutan yang pernah menimpanya. Kaum krabat yang berdatangan ke acara mangupa tersebut juga kebanyakan untuk berdoa dan membawa makanan upa-upa dengan harapan kesehatan yang diupa semakin baik dan bekerja semakin hati-hati, makanan upa-upa yang dibawa tersebut bertujuan menyegarkan kembali kesehatan yang diupa.

 Selain untuk mensetabilkan mental, upacara ini juga memiliki fungsi nasehat, doa, dan harapan, dimana pada setiap hata upah-upah yang disampaikan oleh fungsionaris masyarakat adat pada saat pelaksanaan acara mangupa misalnya pada acara mangupa haroan boru atau patobang anak berisi nilai-nilai yang antara lain sebagai berikut : 

  1. Nilai kerukunan berumah tangga

    Nilai menjaga kerukunan berumah tangga dikandung oleh nasehat-nasehat yang terkandung dalam hata pangupa, petikan nasehat yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan berumah tangga. Terutama dalam mangupa pengantin, maka biasanya dibarengkan dengan acara mangulosi yaitu pemberian kain tenun khas Batak yang diberi nama ulos yang memiliki atau sebagai simbol perlindungan dari segala cuaca. Menurut sebagian orang, bahwa memberikan ulos ini tidak sembarangan orang bisa mangulosi atau memberi ulos, biasanya yang mangulosi disebut dengan hula-hula atau orang-orang yang dituakan dalam adat Batak. Ulos mempunyai corak dan motif yang juga mempunyai makna-makna yang unik, seperti tiga warna dasar kain ulos yaitu merah, putih dan hitam. Tiga warna ini menandakan siapa yang berhak memakainya. Untuk warna merah dipakai oleh pihak dongantubu atau keluarga semarga, putih untuk pihak boru atau pihak keluarga suami, dan hitam untuk hula-hula yaitu pihak keluarga wanita. 

    1. Nilai spiritual 

Harapan doa agar kedua pengantin mendapatkan rumah tangga yang langgeng dan memperoleh keturunan anak yang baik-baik. Fungsionaris adat juga mengharapkan dan mendoakan agar rumah tangga yang akan dibina oleh kedua pengantin selalu diberkahi oleh Allah SWT, karena kesatuan unsur harapan dan doa merupakan fungsi penting dalam pelaksanaan upacara mangupa. Bahkan, terkadang upacara mangupa hampir mirip dengan dengan syukuran yaitu ungkapan syukur kepada Allah SWT telah menyelamatkan seseorang dari mara bahaya. 

    1. Nilai sosial

 Acara mangupa juga sering terdapat dalam acara syukuran (selamatan), untuk memberikan selamat pada kelahiran anak atau ketika anak dewasa dan memperoleh pekerjaan juga dilakukan acara mangupa, tidak hanya acara mangupa tondi untuk mensyukuri keselamat dari kecelakaan yang menimpahnya yang bertujuan untuk mengembalikan semangat supaya tidak trauma saat mengingat terjadinya kecelakaan tersebut. Upacara tradisi mangupa ini, kelihatan rumit tetapi sarat makna dan menimbulkan rasa keakraban yang muncul dari setiap ritualnya sehingga tidak heran apabila orang-orang Tabagsel masih memegang adat kekeluargaan dan saling menghormati serta menyayangi satu dengan yang lainnya.  Sebagaimana tergambar dalam petuah (nasehat) dalam mangupa pada umumnya merupakan petunjuk hidup masyarakat. Apabila tradisi mangupa ini, memberikan kesan silaturrahmi maka dengan demikian upacara mengupa ini patut dilaksanakan orang Muslim mengingat pentingnya menjalin silaturrahmi dalam Islam. Sebab, ajaran Islam merupakan agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangkah mewujudkan ukhuwah islamiyah dengan cara mengunjungi sanak keluarga dan saudara. Bahkan dalam sebuah ayat al-Qur’an ditegaskan bahwa menyambungkan silaturrahmi adalah merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan sangat diperintahkan Allah SWT

والذين يصلون ما أمر الله به أن يو صل و يخشون ربهم ويخافون سوء الحساب (21)

Artinya: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah SWT   perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21) 

Upacara adat mangupa, berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologi pada pasangan pernikahan atau pengantin, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tradisi upacara adat mangupa yang diberikan kepada pasangan pernikahan pemula Tapanuli Selatan memiliki pengaruh dalam motivasi mereka agar menjadi pribadi yang matang dan mampu bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Kematangan tersebut merupakan potensi psikologis yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Sekalipun setiap wilayah daerah Tabagsel, mempunyai adat istiadat mangupa tersendiri yang berbeda satu dengan lainnya namun walaupun berbeda namun adat-istiadat tersebut mempuyai tujuan yang sama yaitu mendidik masyarakat berbudi luhur, bersopan santun, kasih sayang dan berbuat baik terhadap sesama anggota masyarakat. Lebih jauh lagi, upacara mangupa ini seutuhnya tidak bertentangan dengan agama Islam karena tidak ada hal-hal haram di dalamnya, sedangkan cara pangupa ini pun hanya memanggil tondi (semangat) bukan roh-roh yang mati, adapun yang diupa dapat percaya diri dimana tondi itu sudah kembali melihat dengan badan dan mendapat ridha dari Allah SWT, memanggil tondi sudah dilakukan oleh nenek moyang Tabagsel sampai masuknya agama Islam. Terlebih-lebih bahan-bahan yang digunakan pada upacara mangupa tidak bersentuhan dengan yang haram sperti alat-alat pangupa yang digunakan masyarakat Muslim Tabagsel induri (panampi), diolari dengan daun pisang yang diambil dari ujung daunnya, dan kain ulos adat. Begitu juga, pengisiannya adalah nasi putih, kepala Kerbu atau kepala Kambing menurut besarnya adat yang akan diupah. Dapat juga dibuat telur, bagi pangupa yang baru sembuh dari sakit, daging ayam, garam, ikn sale, udang dan ikan kecil-kecil yang terdpat di sungai. Apalagi dalam acara mangupa pernikahan, raja torbing balok dan raja panusunan bulung akan diikut sertakan terlebih-lebih apabila pesta pernikahan itu dimeriakan dengan memotong kerbau, maka pada acara pangupa tersebut diselipkan doa dan harapan-harapan kepada Allah SWT sebagaimana tersirat dalam pribahasa orang Tabagsel sebagai berikut maranak sapulu, marboru sapulu onom maksudnya agar pengantin dapat mengebangbiakkan turunannya dengan harapan mendapat turunan yang baik dan soleh.

Sekalipun, pada zaman dulu masyarakat Tabagsel belum tersentuh ajaran Islam sehingga masih banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam namun dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan agama Islam dibuang dan aturan aturan adat yang tidak bertentangan dengan agama Islam dikukuhkan dan digandeng penggunaannya dengan tetap mengacu kepada ajaran agama Islam. Maka tidak heran, bahwa banyak yang dianggap tabu (dilarang) dalam hukum adat juga disahkan dalam hukum Islam salah satunya adalah hubungan seorang laki-laki dan perempuan yang berbuat zina menurut aturan adat akan dikawinkan keduanya, hubungan semacam ini sama-sama dilarang dalam ajaran agama Islam. Dengan demikian dapatlah dibuktikan, bahwa antara adat dan agama Islam banyak persamaan dan kebaikan yang menjadi panutan oleh masyarakat Tabagsel. 




BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

    Upacar merupakan salah satu adat masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) dalam suatu acara tertentu termasuk acara pernikahan, dimana dalam upacara adat ini sebagai realisasi hajat suatu keluarga yang ingin disampaikan dengan memberikan doa kepada objek yang diupa melalui dengan cara upa-upa untuk menjemput (menumbuhkan kembali) semangat orang yang diupa-upa tersebut.

    Sehingga ulama, tidak melarang praktek adat upacara mangupa ini yang dimiliki beberapa aspek positif yang terkandung didialamnya mulai nilai nasehat, doa, mempererat silaturahmi, memupuk rasa syukur, dan sepanjang praktek adat upacara mangupa tersebut tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran islam.

















KUTIPAN TENTANG JURNAL DARI MODERASI DAN HARMONI BERAGAMA DALAM SURAT TUMBAGA HOLING  BATAK ANGKOLA


Sebagaimana yang dijelaskan oleh bapak zainal efendi hsb  dalam artikelnya bahwa dalam adat batak tidak akan terlepas dari yang namanya horja dan mangupa yaitu dalam melaksanakan horja daln mangupa dalam batak angkola selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saudara semarga. Dan hal ini berguna untuk menghindarkan kesalahan-keselahan dalam pelaksaan adat. 

Dalam pesta pernikahan atau horja harus diketahui oleh kahanggi atau dongan samarga. Hal ini agar tidak ada kesalahan dalam beradat, di Indonesia memiliki beragam suku, budaya, ras dan agama. Terutama di daerah batak angkola terdapat suku batak dan agama yang berbeda tetapi agama tidak melarang untuk melaksanakan horja dan mangupa karena mangupa yang dilaksanakan itu meminta doa kepada allah agar yang di upa itu dalam keadaan sehat wal afiat, begitu juga dengan horja tidak dilarang oleh agama islam selagi masih di jalan yang di ajarkan agama, tidak bermanuk-mabukan contohnya ketika hal ini terjadi maka horja di larang oleh agama.

Dan dalihan natolu yaitu kahanggi, mora dan anak boru.

Kahanggi adalah : orang terdekat dalam satu marga, 

Mora : Merupakan penasehat dalam beradat yaitu ketika dalam melaksanakan horja mora berhak memberi nasehat kepada kaum kerabatnya.

Anak boru : Barisan keluarga menantu dari pihak laki-laki.


Komentar